
Mimika, metronoken.id – kamis (02/04/2026) Pembina Yayasan Gerbang Terang Timur yang juga anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Araminus Omalen, menegaskan bahwa pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Mimika tidak boleh berjalan sepihak tanpa melibatkan kekuatan lokal yang sudah teruji di lapangan.
Komfirmasi melalui via whatsapp. Mimika Senin 02/04/2026.. Dalam penyampaian tersebut, Araminus memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah, khususnya Bupati dan Wakil Bupati Mimika, yang telah menjadikan PAUD sebagai program strategis. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh pendekatan yang tepat dan kolaboratif.
“Saya apresiasi langkah pemerintah daerah. Tapi harus diingat, implementasi di lapangan tidak bisa dilepaskan dari peran gereja dan yayasan lokal. Mereka ini bukan pemain baru, mereka sudah lama bekerja dan memahami kondisi riil masyarakat,” tegasnya.
Menurut Araminus, lembaga keagamaan dan yayasan lokal memiliki pengalaman panjang dalam mendidik anak-anak, baik di wilayah pesisir maupun pegunungan—dua kawasan dengan karakter sosial yang sangat berbeda. Pengalaman ini, kata dia, menjadi modal penting yang tidak dimiliki oleh sistem formal semata.
“Mereka tahu bagaimana pendekatan yang tepat, memahami karakter anak-anak, dan sudah terbiasa menghadapi tantangan sosial di lapangan. Ini tidak bisa digantikan begitu saja oleh sistem dari atas,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa persoalan pendidikan anak usia dini di Mimika tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat. Banyak orang tua, misalnya, harus berangkat ke kebun sejak pagi, sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Kondisi ini berdampak langsung pada kedisiplinan anak untuk bersekolah.
“Ini bukan sekadar urusan anak-anak. Ini soal perubahan pola pikir dan kebiasaan keluarga. Maka pendekatannya juga harus menyentuh orang tua, tidak bisa hanya fokus di sekolah,” jelasnya.
Lebih jauh, Araminus mengungkapkan bahwa faktor sosial seperti kegiatan adat maupun kedukaan sering kali memengaruhi kehadiran siswa di sekolah. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan formal dinilai tidak cukup fleksibel untuk menjawab realitas di lapangan.
“Kalau hanya mengandalkan sistem formal tanpa penyesuaian, maka kita akan kesulitan. Ini wilayah dengan dinamika sosial yang kuat, jadi pendekatannya juga harus kontekstual,” tambahnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk tidak hanya membangun PAUD dalam bentuk sekolah negeri, tetapi juga membuka ruang kemitraan yang luas dengan yayasan lokal yang telah terbukti bekerja di tengah masyarakat.
“Kalau ingin menjangkau sampai ke akar rumput, terutama di pesisir dan pegunungan, maka kolaborasi adalah jalan paling efektif. Jangan berjalan sendiri,” tegas Araminus.
Ia mencontohkan pengalaman Yayasan Gerbang Terang Timur dalam mengelola TK Nangmora selama tujuh tahun sebagai bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu memberikan hasil nyata di tengah berbagai keterbatasan.
Ke depan, Araminus berharap pelayanan pendidikan PAUD dapat menjangkau hingga ke kampung-kampung terpencil di Mimika. Meski demikian, ia mengakui bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga kondisi sosial masyarakat yang kompleks.
“Ini pekerjaan besar, tapi bukan tidak mungkin. Kuncinya ada pada kemauan untuk bekerja bersama dan memahami realitas di lapangan,” tutupnya.
Edito: metro noken