Tangisan Anak Cucu Injil di Tengah Tragedi Wamena: HEFRON TABUNI Soroti Kegagalan Pemerintah Papua Pegunungan

Bagikan ke-:

La pago, metronoken.id  Kamis (21/05/2026) – Konflik perang suku yang pecah di Wamena, ibu kota Provinsi Papua Pegunungan, terus menuai sorotan dan keprihatinan dari berbagai tokoh masyarakat Papua. Salah satu suara keras datang dari HEFRON TABUNI, anak cucu Injil dari suku Lani yang memiliki sejarah panjang penginjilan di wilayah Kurima, suku Hubla, Kabupaten Yahukimo.

Dengan penuh emosi dan rasa duka mendalam, Hefron menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga korban atas tragedi kemanusiaan yang terjadi. Menurutnya, konflik tersebut menjadi catatan hitam pertama di era Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Papua Pegunungan.

“Ini bukan sekadar perang suku biasa. Ini sejarah kelam yang akan dicatat sepanjang perjalanan Provinsi Papua Pegunungan. Kami sangat sedih melihat darah, tangisan, rumah-rumah terbakar, dan rasa takut yang kini menghantui masyarakat,” ungkapnya.

Hefron menegaskan bahwa masyarakat pegunungan selama ini dibangun di atas sejarah panjang pengorbanan para penginjil dan tokoh pendidikan. Para leluhur rela meninggalkan tanah, kebun, keluarga, bahkan mempertaruhkan nyawa demi membawa pendidikan dan Injil ke daerah-daerah pedalaman.

“Mereka pergi membawa damai, membawa pendidikan, dan membangun persaudaraan. Kita sudah hidup sebagai satu keluarga, satu saudara, satu tanah Papua. Tetapi tragedi ini merusak semua hubungan baik yang dibangun dengan air mata dan pengorbanan,” tegasnya.

Dalam pernyataannya, Hefron juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintah daerah dan aparat keamanan yang dinilai gagal mengendalikan situasi hingga konflik meluas dan memakan korban jiwa maupun kerugian harta benda.

Ia menyoroti kepemimpinan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan yang menurutnya belum mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama dalam momentum satu tahun pemerintahan yang seharusnya menjadi awal pembangunan dan persatuan.

“Kami kecewa. Pemerintah tidak boleh hanya hadir membawa bantuan sosial setelah korban berjatuhan. Negara harus hadir menjaga keamanan sebelum rakyat menjadi korban,” katanya dengan nada tegas.

Selain itu, Hefron meminta aparat penegak hukum segera melakukan investigasi mendalam terkait dugaan adanya aktor atau sponsor di balik konflik tersebut. Menurutnya, perang dengan skala besar seperti yang terjadi di Wamena tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa ada pihak yang bermain di belakang dinamika sosial masyarakat.

Ia juga menyampaikan tuntutan keras kepada Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, Tolikara, Jayawijaya, Yahukimo, hingga Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan agar bertanggung jawab atas kegagalan menjaga stabilitas keamanan masyarakat.

Di akhir pernyataannya, Hefron mengajak seluruh masyarakat Papua Pegunungan untuk menghentikan kekerasan dan kembali mengingat nilai persaudaraan yang diwariskan para leluhur dan penginjil terdahulu.

“Kita ini satu darah, satu gunung, satu tanah Papua. Jangan biarkan amarah menghancurkan masa depan anak cucu kita sendiri,” tutupnya penuh harap.

Editor Metro noken

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *