
Sinak, metronoken.id — Konius Murib (48), warga asal Distrik Pogoma, dilaporkan pingsan saat berjalan kaki di ruas jalan Gigobak–Tapulunik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Rabu (29/1/2026) sekitar pukul 10.30 WIT. Konius merupakan salah satu dari ratusan warga yang mengungsi sejak operasi militer pada 5–8 Februari 2025.
Operasi tersebut menyebabkan dua distrik, distrik Sinak Barat dan Pogoma kosong dari penduduk, sementara masyarakat mengungsi secara massal ke Distrik Sinak, Bina, Nabire, hingga Mimika dan hingga kini belum dapat kembali ke kampung halaman. Dalam situasi pengungsian itu, empat warga sipil dilaporkan meninggal dunia akibat kondisi pengungsian selama stengah tahun.
Menurut tokoh masyarakat Leniak Telenggen, sehari-hari Konius Murib bertahan hidup dengan mengumpulkan batu di Kali Kolomame untuk dijual demi memenuhi kebutuhan makan dan minum keluarganya. Aktivitas tersebut telah ia lakukan selama sekitar 11 bulan sejak mengungsi dan menjadi satu-satunya sumber penghasilan di tengah konflik dan kehidupan sebagai pengungsi.
Dalam perjalanan menuju lokasi pengumpulan batu, Konius tiba-tiba merasakan pusing hingga akhirnya pingsan di tengah jalan raya Gigobak–Tapulunik.
Kondisi tersebut memicu kepanikan warga sekitar yang berupaya memberikan pertolongan pertama. Namun, evakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat terkendala serius akibat tidak tersedianya layanan ambulans di wilayah Sinak.
Warga terpaksa menggendong korban menggunakan kayu dan kain menuju Puskesmas Gigobak. Tidak adanya kendaraan yang melintas di lokasi kejadian membuat proses evakuasi berlangsung lambat dan penuh kesulitan, serta berisiko terhadap keselamatan korban.
Leniak Telenggen mengkritik keras minimnya perhatian pemerintah daerah, khususnya dalam penyediaan layanan kesehatan bagi masyarakat pengungsi di Distrik Sinak.
“Kami sampaikan kepada Bupati dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Puncak bahwa sejak ambulans tiba di Sinak sampai sekarang, mobil itu tidak digunakan sebagaimana mestinya. Mobil ambulans digunakan untuk mengangkut batu dan, kayu, dan kepentingan pribadi lain seakan-akan kendaraan pribadi. Ini tidak boleh,”
tegas Leniak Telenggen dalam video berdurasi 4 menit 10 detik yang diterima redaksi nadipapua.com, Jumat (31/1).
Ia menjelaskan, selama ini pasien, baik sakit ringan maupun berat biasanya dirujuk ke Timika, dengan jalur dari Gigobak ke Tapulunik, kemudian menggunakan pesawat.
“Pasien sakit ringan mungkin masih bisa berjalan kaki, tapi pasien sakit berat itu butuh mobil untuk diantar ke bandara. Faktanya, ambulans ada tapi tidak digunakan untuk pelayanan kesehatan. Kami sampaikan bupati puncak segera tarik kembali ambulansnya,” ujarnya.
Menurut warga, Distrik Sinak saat ini menampung pengungsi dari berbagai wilayah, seperti Pogoma, Sinak Barat, Yugumuak, Oneri, dan sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan layanan kesehatan meningkat tajam, sementara fasilitas dan sarana pendukung sangat terbatas.
Leniak menilai situasi ini mencerminkan lemahnya komitmen negara dalam menjamin hak dasar masyarakat atas kesehatan, terutama di wilayah konflik dan pengungsian.
“Pemerintah selalu bilang pelayanan kesehatan dan pendidikan itu kewajiban negara. Tapi di lapangan, masyarakat terus dihadapkan pada kesulitan akses,” katanya.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Puncak, khususnya Bupati dan Kepala Dinas Kesehatan, untuk segera menyediakan mobil ambulans di sedikitnya empat wilayah pelayanan agar akses kesehatan bagi masyarakat dipermudah dan kejadian serupa tidak terulang.
Selain itu, masyarakat juga berharap pemerintah pusat segera menarik aparat TNI dari Kampung Timobut, agar para pengungsi dapat kembali ke kampung halaman mereka.
Warga menegaskan, selama aparat TNI masih berada di wilayah tersebut, masyarakat memilih tidak kembali karena trauma dan ketakutan atas peristiwa-peristiwa tragis yang dialami sebelumnya.
“Keselamatan, kesehatan, dan rasa aman adalah hak dasar kami sebagai warga negara. Negara tidak boleh abai,” tutup Leniak Telenggen. (*)