
Nabire, metronoken.id – Jaringan Alumni Komunitas Mahasiswa Papua se-Sumatra (Jam Kompass) menggelar rangkaian kegiatan Seminar, Perayaan Natal, dan Reuni Akbar di Aula PU Nabire, Papua Tengah, Jumat (8/12). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 8–10 Desember 2025, menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan sekaligus merumuskan kontribusi strategis alumni bagi pembangunan Tanah Papua.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WIT ini dihadiri lebih dari 40 peserta dari enam provinsi di wilayah Papua. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah hingga mencapai kisaran 50–60 orang pada puncak acara. Para peserta merupakan alumni yang pernah menempuh pendidikan tinggi di berbagai universitas di Pulau Sumatra.
Ketua Panitia, Yance Emani, S.AB, menjelaskan bahwa tahun ini menjadi sejarah baru bagi Jam Kompass karena Papua Tengah untuk pertama kalinya dipercaya menjadi tuan rumah.
“Pertama kali kegiatan ini diselenggarakan pada 2022 di Jakarta. Tahun 2025, Papua Tengah menjadi tuan rumah. Untuk tahun 2028 atau 2029, kami sedang mempertimbangkan Sorong atau Wamena sebagai lokasi selanjutnya,” ujarnya kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan di Papua Tengah juga menjadi bentuk dorongan agar kegiatan-kegiatan intelektual dan pembinaan sumber daya manusia dapat lebih sering dilaksanakan di tanah kelahiran para alumni tersebut.
Yance memaparkan bahwa kegiatan berlangsung dalam tiga rangkaian utama.
“Hari pertama kami membuka seminar, sore harinya dilanjutkan perayaan Natal, dan keesokan harinya reuni akbar antaralumni,” jelasnya.
Menurutnya, meskipun para alumni tersebar di enam provinsi dan jarak antarwilayah cukup jauh, antusiasme peserta tetap tinggi. Seluruh perwakilan provinsi dapat hadir dan ikut menyukseskan kegiatan.
Dalam sambutannya, Yance menegaskan komitmen Jam Kompass untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan daerah, khususnya melalui penguatan sumber daya manusia Papua.
“Kami, Jaringan Alumni Komunitas Mahasiswa Papua se-Sumatra, siap menyiapkan generasi muda yang kompeten untuk membangun Tanah Papua. Kami berharap pemerintah provinsi, khususnya Papua Tengah, dapat bekerja sama dan turut mendukung pengembangan SDM ini,” tegasnya.
Ia menilai bahwa investasi terbesar bagi Papua adalah peningkatan kualitas pendidikan, pembinaan karakter, dan membuka akses kesempatan yang lebih luas bagi anak muda.
Yance tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi panitia sebelum kegiatan berlangsung. Mulai dari komunikasi lintas provinsi yang sering terhambat, hingga kesibukan pekerjaan para anggota panitia dan alumni yang tersebar di berbagai daerah. “Namun dengan komitmen bersama, semua dapat teratasi. Semangat kebersamaan para alumni menjadi kunci suksesnya kegiatan ini,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa salah satu tujuan penting reuni ini adalah memperkuat jejaring antaralumni agar dapat saling membantu, terutama dalam akses tempat tinggal, jaringan pekerjaan, dan mobilitas ketika berpindah wilayah.
Di tempat yang sama, Agustinus Goh, S.Sos, salah satu perwakilan pengurus Jam Kompass, menegaskan perlunya keterlibatan aktif seluruh anggota organisasi.
“Kami sadar bahwa tantangan internal tidak sedikit — mulai dari jarak wilayah yang luas hingga kesibukan masing-masing anggota. Karena itu, kami berharap semua alumni tetap terlibat aktif dan berpartisipasi di setiap program,” ujarnya.
Agustinus, yang merupakan alumni Universitas Sumatera Utara (USU), menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur masyarakat Papua dalam membangun SDM yang unggul.
“Untuk menciptakan SDM yang mampu mengelola sumber daya alam Papua secara optimal, dibutuhkan dukungan pemerintah, tokoh adat, gereja, perempuan, pemuda, serta seluruh elemen masyarakat. Jam Kompass siap mengawal dan menjadi bagian dari upaya besar ini,” tandasnya.
Agustinus juga berharap panitia mampu menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan dengan baik hingga hari terakhir. (*)