
Mimika, metronoken.id Sabtu (20/9/2025) Tokoh intelektual Amungme dan Kamoro yang tergabung dalam Organisasi Kaum Intelektual Amungsa (OKIA) menggelar pertemuan di Tanah Amusa, Tapare, Mimika. Pertemuan ini digelar untuk menyikapi perbedaan pendapat masyarakat terkait penggunaan tagline “Mimika Rumah Kita” yang dinilai belum melalui kajian akademik maupun sosialisasi menyeluruh kepada masyarakat adat.
Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Ketua Lemasa, John Magal, yang mempertanyakan apakah penggunaan nama/tagline tersebut telah memiliki dasar akademis dan melalui tahapan sosialisasi.
“Kami perlu tahu, apakah nama ini sudah punya kajian akademis atau belum, dan apakah sudah disosialisasikan ke semua lapisan masyarakat atau tidak,” tegas John Magal.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Lembaga Musyawara Adat Suku Kamoro (LEMASKO), Fredi Atiamona, yang menilai keputusan penggunaan tagline tersebut terkesan sepihak.
“Bupati dari Kamoro, Wakil dari Amungme, namun hal ini tidak pernah dipresentasikan kepada seluruh masyarakat. Karena itu, saya menyampaikan agar nama ini dihapus,” ujar Fredi.
Sementara itu, perwakilan masyarakat, Ham Kora, menilai bahwa penggunaan tagline “Mimika Rumah Kita” akan berdampak langsung pada generasi mendatang.
“Nama ini berdampak kepada semua lapisan, sayangnya anak cucu kita ke depan yang akan menanggung akibatnya,” ujarnya.
Sebagai pengarah dalam pertemuan ini, Yohanes Kemong menekankan bahwa keputusan pemerintah daerah terkait penggunaan nama atau tagline tersebut merupakan keputusan politik yang merugikan masyarakat adat.
“Semua intelektual sudah melakukan analisis, hasilnya jelas: penggunaan tagline ini akan mengganggu jati diri generasi ke depan,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, para tokoh sepakat untuk membentuk tim kajian yang akan merumuskan sikap resmi. Tim ini nantinya akan menyampaikan hasil kajian kepada DPRD Kabupaten Mimika melalui rapat dengar pendapat, sekaligus mendesak agar DPRD mengundang pemerintah dan masyarakat untuk duduk bersama mencari solusi terbaik.
“Keputusan hari ini adalah membentuk tim. Dalam 3–4 hari ke depan, tim akan bekerja dan membawa hasil kajian ke DPRD Mimika. Jika tidak ditindaklanjuti, maka sikap kami jelas: menolak,” tegas perwakilan OKIA.
Pertemuan juga dihadiri oleh perwakilan DPRD Mimika, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta lapisan masyarakat akar rumput.
Kesimpulan akhir yang ditegaskan dalam pertemuan adalah bahwa. Mimika Adalah Eme Neme Yau Ware Bukan “Mimika Rumah Kita”.
Editor: hefron Tabuni