
Contoh cara kerja bioplastics. (doc.Google)
Jakarta, 7 Agustus 2025 — Tim peneliti muda dari Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengembangkan inovasi bioplastik berbahan dasar rumput laut yang ramah lingkungan dan mudah terurai secara alami. Penemuan ini digadang-gadang sebagai terobosan teknologi hijau di tengah meningkatnya krisis sampah plastik di Indonesia.
Bioplastik tersebut dikembangkan dari jenis rumput laut merah (Gracilaria sp.) yang banyak dibudidayakan di wilayah pesisir Sulawesi dan Nusa Tenggara. Proses pembuatannya melibatkan ekstraksi agar-agar dari rumput laut, yang kemudian diolah bersama bahan organik lain seperti pati singkong dan gliserol.
Ketua tim peneliti, Aditya Wira Negara, menyatakan bahwa produk ini dapat terurai dalam waktu kurang dari 60 hari, jauh lebih cepat dibandingkan plastik konvensional yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. “Kami berharap bioplastik ini bisa menjadi solusi nyata bagi industri kemasan makanan dan kebutuhan rumah tangga,” ujar Aditya saat ditemui di Laboratorium Teknologi Lingkungan ITB.
Penelitian ini telah mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset dan Teknologi, dan saat ini tengah memasuki tahap uji coba massal di beberapa industri kecil di Jawa Barat dan Bali. Jika berhasil, produk ini akan dipasarkan secara luas mulai awal 2026.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, menyambut baik inovasi ini. Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa pengembangan bioplastik lokal adalah langkah penting dalam mendukung program Indonesia Bebas Sampah Plastik 2040.
“Inovasi ini menunjukkan bahwa anak-anak muda Indonesia tidak hanya kreatif, tetapi juga peduli terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujar Siti.
Sementara itu, pakar bioteknologi dari Universitas Indonesia, Dr. Retno Aryani, menambahkan bahwa keberhasilan komersialisasi bioplastik akan sangat ditentukan oleh biaya produksi dan dukungan kebijakan pemerintah. “Teknologinya menjanjikan, tetapi harus ditopang oleh insentif dan edukasi pasar,” katanya.
Dengan terobosan ini, Indonesia semakin menunjukkan peran aktifnya dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal, sekaligus membuka peluang besar dalam pasar global yang kian sadar akan isu keberlanjutan.