
Ilustrasi perubahan waktu ke waktu. (carva.com)
Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan mencatat fenomena mengejutkan: Bumi berputar lebih cepat dari biasanya. Akibatnya, durasi satu hari kini bisa lebih pendek dari 24 jam — meskipun hanya dalam hitungan milidetik. Misalnya, pada 10 Juli 2025, durasi rotasi Bumi tercatat lebih pendek 1,36 milidetik dari 86.400 detik (panjang hari standar). Hari-hari super pendek lain terjadi pada 22 Juli dan 5 Agustus, masing-masing 1,34 dan 1,25 milidetik lebih cepat. Fenomena ini tak berdampak pada aktivitas harian kita, tetapi sangat krusial bagi sistem teknologi global, seperti satelit, navigasi GPS, jaringan internet, dan sistem keuangan yang semuanya bergantung pada sinkronisasi waktu yang presisi.
Penyebab Utama: Mengapa Bumi Berputar Lebih Cepat? Para ilmuwan menemukan bahwa percepatan rotasi Bumi ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, baik alami maupun yang terkait perubahan iklim. Berikut penjelasan lengkapnya: 1. Peran Bulan dan Pasang Surut Gravitasi bulan memberikan gaya tarik yang memengaruhi pasang surut air laut. Ketika bulan berada di atas khatulistiwa, gaya tarik tersebut cenderung memperlambat rotasi Bumi. Namun ketika bulan berada di lintang tinggi atau rendah, rotasi Bumi bisa menjadi lebih cepat.
Dan kini, para ilmuwan mulai mempertimbangkan untuk menghapus satu detik dari sistem waktu — sebuah “leap second negatif”, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Baca juga: Kenapa Hari di Musim Panas Tahun Ini Lebih Pendek? Ini Penjelasannya Tantangan Leap Second Negatif: Risiko Teknologi Global Leap second negatif bisa mengacaukan sistem-sistem yang sudah dibangun berdasarkan waktu yang stabil. Komputer, server, jaringan global, sistem keuangan, dan satelit navigasi GPS semuanya sangat sensitif terhadap pergeseran waktu, bahkan dalam milidetik. “Bahkan leap second positif pun masih sering salah diterapkan di beberapa sistem,” kata Judah Levine. “Apalagi kalau kita bicara leap second negatif, yang belum pernah dicoba.”
Perubahan Arah Sumbu Bumi Selain kecepatan rotasi, sumbu rotasi Bumi juga berubah akibat redistribusi massa dari pencairan es. Menurut penelitian Benedikt Soja dari ETH Zurich, mencairnya lapisan es menggeser posisi sumbu Bumi, yang juga memengaruhi dinamika rotasi secara keseluruhan. Jika tren pemanasan global berlanjut, efek perubahan iklim terhadap rotasi Bumi bisa melampaui pengaruh gravitasi bulan, yang selama miliaran tahun menjadi kekuatan utama dalam dinamika Bumi.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya? Saat ini, badan internasional seperti International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) hanya berani memprediksi fluktuasi rotasi hingga satu tahun ke depan — karena ketidakpastian jangka panjangnya sangat tinggi.
Menurut Soja, percepatan rotasi saat ini masih mungkin dianggap variabilitas alami. “Bisa jadi dalam beberapa tahun ke depan kita melihat Bumi kembali melambat. Tapi itu hanya dugaan,” katanya. Dalam beberapa tahun ke depan, dunia mungkin akan menghadapi langkah belum pernah terjadi sebelumnya: mengurangi satu detik dari jam dunia.